Klinik Gigi SATU Dental

Bayi Baru Lahir Punya Gigi, Apakah Normal?

Bayi Baru Lahir Punya Gigi, Apakah Normal?

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Melihat senyum pertama seorang bayi tentu menjadi momen yang membahagiakan bagi setiap orang tua. Namun, bagaimana jika senyum itu memperlihatkan sebutir gigi kecil yang sudah tumbuh sejak lahir? Meski terdengar tidak biasa, beberapa bayi memang terlahir dengan gigi di dalam rongga mulutnya, kondisi yang dikenal dengan istilah natal teeth. Fenomena ini kerap menimbulkan kekhawatiran: Apakah ini pertanda gangguan perkembangan? Apakah gigi tersebut berbahaya? Atau justru merupakan varian normal dari pertumbuhan gigi bayi?

Artikel ini akan membahas secara ilmiah dan menyeluruh mengenai apa itu natal teeth, penyebab bayi lahir sudah memiliki gigi, serta risiko kesehatan yang mungkin ditimbulkan. Selain itu, akan diulas pula alasan di balik munculnya benjolan pada gusi bayi yang baru lahir, dan bagaimana penanganan medis yang tepat menurut panduan kedokteran gigi anak.

Table of Contents

Apa Itu Natal Teeth?

Apa Itu Natal Teeth?

Natal teeth adalah gigi yang sudah terlihat di dalam rongga mulut bayi sejak lahir, bukan yang baru tumbuh beberapa minggu setelah kelahiran. Meskipun jarang terjadi, kondisi ini tercatat memiliki prevalensi sekitar 1 dari 2.000 hingga 3.500 kelahiran, dan jumlahnya dapat bervariasi berdasarkan faktor geografis dan genetik.

Umumnya, bayi baru lahir punya gigi yang tergolong sebagai gigi susu normal, hanya saja erupsinya terjadi jauh lebih awal dari jadwal fisiologis normal. Sebanyak 90% dari kasus natal teeth merupakan gigi sulung normal yang mengalami erupsi prematur, sementara sisanya sekitar 1–10% merupakan gigi supernumerary, yaitu gigi tambahan yang tidak termasuk dalam deretan gigi susu.

Letaknya paling sering ditemukan pada insisivus bawah, dan karakteristiknya sering mencakup ukuran kecil, akar yang belum berkembang sempurna, dan tingkat mobilitas yang tinggi, sehingga berisiko tanggal secara spontan.

Baca Juga: Umur Berapa Bayi Tumbuh Gigi dan Pentingnya Menjaga Kesehatan Gigi 

Apa Penyebab Bayi Baru Lahir Punya Gigi?

Kondisi bayi baru lahir punya gigi bukanlah fenomena acak, melainkan akibat dari sejumlah faktor predisposisi yang memengaruhi proses pembentukan dan erupsi gigi sebelum lahir.Meskipun mekanismenya belum sepenuhnya dipahami, penelitian menunjukkan beberapa penyebab utama berikut:

1. Posisi Germ Gigi yang Terlalu Superfisial

Dalam banyak kasus, germ atau bakal gigi berkembang terlalu dekat dengan permukaan mukosa gingiva. Akibatnya, gigi menembus gusi lebih cepat daripada seharusnya, dan sudah tampak saat bayi lahir.

Kondisi ini adalah penyebab paling umum dari natal teeth. Posisi yang terlalu superfisial ini juga dapat menimbulkan tonjolan atau benjolan kecil pada gusi bayi yang baru lahir, bahkan jika gigi belum sepenuhnya erupsi, sehingga kadang disalahartikan sebagai kelainan padahal merupakan bagian dari proses fisiologis erupsi gigi dini.

2. Faktor Genetik atau Sindromik

Faktor Genetik atau Sindromik

Riwayat keluarga dengan kasus serupa sering ditemukan, menunjukkan bahwa faktor genetik memainkan peran penting. Selain itu, beberapa sindrom kongenital seperti Sindrom Sotos, Ellis–van Creveld, atau Pierre–Robin Sequence memiliki kaitan dengan kelainan perkembangan gigi, termasuk erupsi dini.

Bayi dengan kelainan sindromik ini kadang menunjukkan kelainan jaringan lunak mulut seperti benjolan di gusi sebagai bagian dari ekspresi abnormal perkembangan rongga mulut.

3. Gangguan Kronologi Perkembangan Gigi

Terjadi ketidaksesuaian waktu antara fase pertumbuhan dan erupsi gigi. Mekanisme biologis normal yang mengatur waktu erupsi terganggu, sehingga gigi muncul lebih cepat dari fase perkembangan jaringan keras dan lunak sekitarnya.

Hal ini menjelaskan mengapa natal teeth dapat muncul saat jaringan pendukungnya belum siap menopang gigi dengan baik dan mengapa munculnya gigi bisa disertai dengan pembengkakan lokal pada gusi.

4. Faktor Lingkungan Prenatal

Meskipun masih dalam tahap penelitian, terdapat dugaan bahwa paparan tertentu selama masa kehamilan, seperti kekurangan nutrisi esensial, gangguan metabolisme hormonal, atau pengaruh bahan toksik tertentu dapat memicu erupsi dini gigi.

Faktor-faktor ini mungkin memengaruhi diferensiasi dan proliferasi jaringan odontogenik janin di dalam rahim dan juga bisa menyebabkan gangguan lokal pada jaringan gusi berupa benjolan kecil, terutama jika proses erupsi tertahan di bawah permukaan mukosa.

Risiko Natal Teeth

Meskipun terlihat menggemaskan dan sering menimbulkan rasa penasaran, kondisi bayi baru lahir punya gigi atau natal teeth sebenarnya dapat menimbulkan berbagai risiko terhadap kesehatan dan keselamatan bayi, terutama jika gigi yang tumbuh tidak stabil atau belum berkembang sempurna.

Gigi ini umumnya tidak memiliki akar yang kuat sehingga mudah goyang dan bisa mengganggu proses menyusui maupun keselamatan bayi. Berikut adalah beberapa risiko utama yang dapat terjadi akibat kondisi ini:

1. Risiko Bayi Tersedak saat Menyusu

Risiko Bayi Tersedak saat Menyusu

Gigi yang tumbuh sejak lahir sering kali memiliki struktur akar yang belum matang dan kurang kuat melekat pada gusi. Hal ini menyebabkan gigi tersebut mudah tanggal dan berisiko tertelan atau bahkan terhirup oleh bayi saat menyusu. Jika gigi tersebut masuk ke saluran napas, dapat terjadi aspirasi yang berbahaya dan mengancam nyawa bayi sehingga kondisi ini harus mendapatkan perhatian medis segera.

Tidak jarang, gigi yang akan segera tumbuh namun belum erupsi penuh dapat terlihat sebagai benjolan pada gusi dan perlu dibedakan dengan kondisi lain seperti kista erupsi, yaitu benjolan berisi cairan yang terbentuk saat gigi akan keluar dan merupakan bagian dari proses normal, tetapi tetap perlu diamati oleh dokter gigi anak.

2. Menyusui ASI pada Bayi akan Terasa Sakit

Permukaan gigi yang tajam pada bayi baru lahir dapat menyebabkan luka atau iritasi pada puting ibu saat menyusui. Hal ini tidak hanya menimbulkan rasa nyeri yang signifikan pada ibu, tetapi juga dapat mengganggu ikatan emosional antara ibu dan bayi serta mengurangi durasi dan frekuensi menyusui karena rasa tidak nyaman yang ditimbulkan.

3. Sariawan pada Bayi

Gigi yang tumbuh sebelum waktunya berpotensi melukai bagian dalam rongga mulut bayi, seperti lidah atau dinding pipi, akibat gesekan berulang saat menyusu.

Kondisi ini dapat memicu terbentuknya luka ulseratif yang dikenal sebagai Riga-Fede disease, yaitu lesi kronis yang menyakitkan dan bisa menghambat kemampuan bayi untuk menyusu dengan efektif. Dalam beberapa kasus, benjolan yang tampak di bawah gigi bisa menandakan iritasi atau trauma akibat tekanan terus-menerus dari gigi terhadap jaringan lunak di sekitarnya.

Baca Juga: 7 Penyebab Sariawan di Gusi dan Cara Mengatasi Sariawan di Gusi

4. Menghambat Proses Menyusu

Keberadaan gigi yang muncul di luar waktu normal dapat mengubah posisi lidah dan mekanisme hisap alami bayi. Akibatnya, proses menyusui menjadi kurang efisien karena bayi kesulitan menciptakan tekanan isap yang optimal, yang pada gilirannya bisa menurunkan asupan nutrisi dari ASI dan mengganggu tumbuh kembangnya.

5. Pilih Ukuran Teether Sesuai Usia Bayi

Pilih Ukuran Teether Sesuai Usia Bayi

Dalam beberapa kasus, dokter atau tenaga kesehatan dapat menyarankan penggunaan teether untuk membantu meredakan ketidaknyamanan pada rongga mulut bayi. Namun, penting untuk memilih teether yang sesuai usia dan ukuran mulut bayi agar aman digunakan. Teether harus steril, lembut, dan bebas bahan berbahaya serta digunakan di bawah pengawasan orang tua atau ahli kesehatan anak guna mencegah risiko tersedak atau iritasi tambahan.

Apabila benjolan muncul di area gusi yang tertekan oleh teether atau akibat pergerakan gigi yang belum erupsi sempurna, segera konsultasikan dengan dokter agar dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut apakah benjolan tersebut merupakan proses alami atau tanda komplikasi.

Apakah Normal Bayi Baru Lahir Punya Gigi?

Dalam dunia medis gigi anak, kondisi bayi baru lahir punya gigi dikenal sebagai natal teeth dan meskipun jarang terjadi, tidak selalu menandakan adanya kelainan atau gangguan perkembangan. Umumnya, natal teeth adalah gigi sulung yang tumbuh lebih awal dari waktu normal dan ini terjadi pada sekitar satu dari 2.000 kelahiran. Sekitar 90 hingga 99 persen kasus adalah gigi susu yang muncul prematur, sedangkan sisanya merupakan gigi tambahan atau supernumerary yang tidak termasuk dalam deretan gigi normal.

Secara klinis, dokter gigi akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi gigi tersebut, mulai dari stabilitas gigi di gusi, potensi luka pada jaringan lunak mulut, hingga dampaknya terhadap proses menyusui. Jika gigi terlihat stabil, tidak menyebabkan luka, dan tidak mengganggu menyusu, biasanya tidak perlu dilakukan tindakan.

Namun jika gigi tersebut goyang, menyebabkan nyeri, atau meningkatkan risiko komplikasi, dokter dapat menyarankan tindakan seperti penghalusan tepi tajam atau pencabutan untuk mencegah masalah lebih lanjut.  Jika terlihat benjolan di gusi, dokter juga akan memastikan apakah itu merupakan bagian dari proses erupsi, kista erupsi, atau kelainan lain seperti pembengkakan akibat trauma ringan.

Dengan demikian, bayi baru lahir punya gigi bisa dikategorikan sebagai varian normal dari perkembangan gigi selama tidak menimbulkan gangguan klinis. Namun, kondisi ini tetap perlu dipantau oleh dokter gigi anak agar tidak berdampak negatif terhadap kesehatan bayi secara keseluruhan.

Baca Juga: Berapa Jumlah Gigi Susu Anak? Ini Perbedaannya dengan Gigi Tetap dan Cara Merawatnya 

Munculnya gigi pada bayi yang baru lahir memang bukan hal umum, tetapi juga tidak selalu menandakan kondisi medis yang berbahaya. Yang terpenting, orang tua perlu memahami penyebab dan risiko yang mungkin ditimbulkan dari natal teeth agar dapat mengambil langkah yang tepat.

Jika Anda menemukan kondisi ini pada si kecil, jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan dokter gigi, terutama spesialis kedokteran gigi anak, guna memastikan kesehatan rongga mulut buah hati Anda tetap optimal.

Salah satu pilihan terbaik adalah Klinik Gigi SATU Dental. Klinik ini memiliki keunggulan dalam menangani masalah kesehatan gigi dan mulut pada anak, termasuk kasus bayi yang lahir dengan gigi. SATU Dental menyediakan perawatan dan fasilitas lengkap, mulai dari perawatan gigi dasar hingga lanjutan.

Klinik ini juga didukung oleh 350+ dokter gigi umum dan spesialis, termasuk Spesialis Kedokteran Gigi Anak, yang siap memberikan pelayanan profesional dan ramah anak. 

Tak hanya itu, seluruh cabangnya telah dilengkapi dengan alat berstandar tinggi untuk diagnosa yang akurat, serta pilihan pembayaran fleksibel, mulai dari Paylater, cicilan 0% bank, hingga puluhan asuransi rekanan seperti AIA, Mandiri, Sequis, BRI Life, Meditap, dan lainnya. Jadi, jangan biarkan kekhawatiran mengganggu momen bahagia bersama si kecil.

Konsultasikan kondisi gigi anak Anda di Klinik Gigi SATU Dental sekarang juga, dan pastikan senyumnya tumbuh sehat sejak hari pertama.

Artikel Lainnya yang Terkait

Referensi

  • ADA. “Worldwide prevalence of natal and neonatal teeth.” J Am Dent Assoc. 2023.

  • Hiremath MC, et al. “Natal and neonatal teeth: prevalence, etiology, clinical features.” IJDSIR. 2022.

  • IOSR Journals. “Natal and Neonatal Teeth – A Case Series With Review of Literature.” IOSR J Dent Med Sci. 2023.

  • MDPI. “Natal and Neonatal Teeth: A Case Report and Mechanistical Perspective.” Healthcare. 2021.

  • Silva AWR, et al. “Incidence and etiopathogenesis of natal and neonatal teeth: an integrative review.” Int J Pediatr Res Rev. 2020.

Cabang Klinik Gigi SATU Dental

Buat Jadwal di Klinik SATU Dental