Pernahkah kamu mendapati sisa potongan kecil keras di gusi anak setelah gigi susunya lepas, atau justru crown giginya sudah patah tapi akarnya masih tertancap di dalam? Kondisi akar gigi susu tertinggal sering kali membingungkan para orang tua, apakah hal tersebut berbahaya atau bisa membaik dengan sendirinya seiring waktu.
Padahal, menyisakan akar gigi di dalam gusi tanpa penanganan yang tepat bisa menjadi bom waktu bagi kesehatan mulut si kecil hingga mengganggu arah tumbuh gigi permanennya.
Table of Contents
Apa Itu Kondisi Akar Gigi Susu Tertinggal?
Kondisi akar gigi susu tertinggal adalah keadaan ketika bagian akar dari gigi susu anak tidak ikut lepas secara utuh saat mahkota gigi tanggal, atau masih tertanam kuat di dalam jaringan gusi dan tulang rahang.
Secara normal, proses lepasnya gigi susu diawali dengan fenomena reabsorpsi atau penyerapan alami akar gigi oleh tubuh yang dipicu oleh dorongan benih gigi permanen di bawahnya. Namun, pada beberapa kasus, proses penyerapan ini tidak terjadi secara sempurna atau terjadi patahan sehingga menyisakan fragmen akar. Pemahaman mengenai tumbuh kembang gigi ini selengkapnya bisa kamu baca pada panduan gigi susu anak.
Baca Juga: Perawatan Gusi untuk Anak: Menjaga Kesehatan Gusi dan Gigi Sejak Dini
Penyebab Utama Akar Gigi Susu Masih Menancap di Gusi
Ada berbagai faktor medis dan kebiasaan yang menyebabkan fragmen akar gigi susu tetap tertinggal di dalam jaringan mulut anak, di antaranya:
1. Karies Parah dan Pembusukan Gigi
Gigi susu yang mengalami karies berat atau pengeroposan kronis sering kali kehilangan struktur mahkotanya secara bertahap. Ketika mahkota gigi hancur atau patah saat dipakai mengunyah, akar gigi yang sudah terinfeksi sering kali tetap tertancap di dalam gusi tanpa disertai rasa sakit di tahap awal.
2. Trauma atau Benturan pada Mulut
Anak-anak yang aktif rentan mengalami benturan pada area wajah saat bermain atau berolahraga. Benturan keras dapat mematahkan mahkota gigi susu secara mendadak, sementara bagian akarnya masih terikat kuat oleh jaringan periodontal di dalam tulang rahang.
3. Proses Resorpsi Akar yang Tidak Sempurna
Secara biologis, terkadang benih gigi permanen tidak berada tepat di bawah akar gigi susu, melainkan sedikit bergeser. Hal ini menyebabkan tekanan erupsi tidak merata sehingga hanya sebagian akar gigi susu yang terserap, sedangkan bagian akar lainnya tidak terdegradasi dan tertinggal di dalam gusi. Untuk mengetahui fase pergantian yang wajar, kamu bisa menyimak artikel kapan gigi susu tanggal.
4. Pencabutan Mandiri yang Kurang Tepat
Memaksa mencabut gigi susu anak yang belum benar-benar goyang secara mandiri di rumah—misalnya dengan ditarik secara paksa—sangat berisiko mematahkan struktur akar yang tipis dan menyisakan fragmen di dalam gusi.
Baca Juga: Gigi Gingsul pada Anak, Bisa Diatasi?
Bahaya dan Risiko Jika Sisa Akar Gigi Anak Dibiarkan
Banyak orang tua menganggap sisa akar akan keluar dengan sendirinya, padahal membiarkannya tanpa evaluasi medis dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius:
- Sumber Infeksi dan Abses Gusi: Akar gigi yang mati dan tertinggal merupakan sarang perkembangbiakan bakteri yang ideal. Infeksi berulang dapat memicu terbentuknya kantung nanah (abses) di gusi yang terasa sangat nyeri dan menyebabkan demam pada anak.
- Kerusakan Benih Gigi Permanen: Infeksi kronis pada sisa akar dapat merambat ke bawah dan merusak pembentukan benih gigi permanen yang sedang berkembang, menyebabkan kecacatan email (hypoplasia) atau perubahan warna pada gigi permanen kelak.
- Mengganggu Erupsi Gigi Permanen: Fragmen akar yang tertinggal dapat bertindak sebagai penghalang fisik (impediment), membuat gigi permanen kesulitan untuk tumbuh atau justru berbelok arah sehingga tumbuh miring dan berantakan.
- Nyeri Kronis dan Bau Mulut: Penumpukan makanan di sekitar sisa akar sulit dibersihkan dengan sikat gigi biasa, memicu pembusukan, bau mulut tidak sedap (halitosis), serta gusi gampang berdarah dan membengkak.
Prosedur Penanganan Medis oleh Dokter Gigi

Jika kamu mencurigai ada sisa akar gigi susu yang tertinggal pada anak, sangat disarankan untuk tidak mencoba mengeluarkan atau mengoreknya sendiri karena dapat memicu infeksi dan trauma jaringan gusi.
Langkah penanganan yang aman dan tepat meliputi:
- Pemeriksaan Radiografi (Foto Rontgen Gigi): Dokter gigi akan melakukan foto rontgen untuk melihat posisi pasti sisa akar, kedalamannya di dalam tulang rahang, serta letak benih gigi permanen di bawahnya.
- Pencabutan Sisa Akar (Ektraksi): Jika sisa akar berpotensi memicu infeksi atau menghalangi gigi permanen, dokter gigi akan melakukan tindakan pencabutan yang steril dan minim rasa sakit menggunakan anestesi lokal.
- Perawatan Saluran Akar (Jika Memungkinkan): Pada kasus tertentu di mana sisa struktur masih bisa dipertahankan sementara waktu demi menjaga ruang tumbuh, dokter dapat menyarankan prosedur perawatan akar dan saraf gigi.
Baca Juga: Gigi Gigis pada Anak, Ketahui Penyebab Utamanya!
Tips Perawatan Gigi Anak untuk Mencegah Masalah Akar Gigi
Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Langkah-langkah preventif berikut dapat kamu terapkan agar kesehatan mulut anak tetap terjaga dengan baik:
- Dampingi Anak Menyikat Gigi: Pastikan anak menyikat gigi dua kali sehari—setelah sarapan dan sebelum tidur—menggunakan pasta gigi berfluoride seukuran biji jagung.
- Hindari Kebiasaan Mengoleskan Manisan: Batasi konsumsi makanan dan minuman tinggi gula serta hindari kebiasaan memberikan susu botol menjelang tidur malam tanpa membersihkan giginya.
- Jangan Mencabut Gigi Secara Paksa: Biarkan gigi susu tanggal secara alami jika sudah waktunya, atau serahkan proses pencabutan kepada dokter gigi profesional agar akar terangkat sempurna.
- Pemeriksaan Rutin Setiap 6 Bulan: Rutin membiasakan anak berkunjung ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali membantu mendeteksi karies sejak dini sebelum merusak struktur mahkota dan akar gigi.
Ringkasan Hal yang Wajib Dipahami Orang Tua
Berikut poin kunci yang perlu kamu ingat mengenai kondisi akar gigi susu tertinggal:
- Akar Tertinggal Bukan Hal Normal: Sisa akar yang patah atau tertinggal akibat karies tidak selalu bisa terserap alami dan sering menjadi sumber infeksi.
- Risiko pada Gigi Permanen: Komplikasi utama dari membiarkan sisa akar adalah terganggunya arah tumbuh dan kualitas gigi permanen anak.
- Pentingnya Penanganan Dokter: Hindari tindakan mengorek sendiri di rumah; penanganan medis profesional menjamin prosedur aman dan steril.
- Pencegahan Utama: Menjaga kebersihan rongga mulut dan rutin periksa ke dokter gigi tiap 6 bulan adalah cara terbaik mencegah pengeroposan akar.
Jaga Kesehatan Senyum Si Kecil Bersama SATU Dental!
Kesehatan gigi susu adalah kunci utama untuk mendapatkan susunan gigi permanen yang rapi dan sehat di masa depan. Jika kamu menemukan indikasi adanya akar gigi susu yang tertinggal atau ingin memastikan kondisi tumbuh kembang gigi si kecil berjalan optimal, jangan ragu untuk mengonsultasikannya secara langsung ke klinik dokter gigi terpercaya.
Percayakan perawatan gigi anak dan seluruh anggota keluarga kamu kepada tim dokter gigi profesional di SATU Dental. Ramah anak dan dilengkapi fasilitas medis modern, SATU Dental siap memberikan pengalaman perawatan gigi yang aman, steril, dan menyenangkan.
Untuk mempermudah pembayaran, tersedia berbagai pilihan melalui lebih dari 20 perusahaan asuransi, fasilitas paylater, serta cicilan 0% dari berbagai mitra seperti BCA, Bank Mandiri, BRI, OCBC, Kredivo, Indodana, dan Care Now.
Yuk, reservasi jadwal kunjungan kamu dan si Kecil ke Klinik Gigi SATU Dental terdekat sekarang juga!
Referensi
Andreasen, J. O., Lauridsen, E., & Gerds, T. A. (2006). Dental traumatology: An overview of traumatic dental injuries. Dental Traumatology, 22(3), 131–137. https://doi.org/10.1111/j.1600-9657.2006.00417.x
Day, P. F., Flores, M. T., O’Connell, A. C., Abbott, P. V., Tsilingaridis, G., Fouad, A. F., Cohenca, N., Lauridsen, E., Bourguignon, C., Hicks, L., Andreasen, J. O., Cauwels, R., & Velly, A. M. (2020). International Association of Dental Traumatology guidelines for the management of traumatic dental injuries: 3. Injuries in the primary dentition. Dental Traumatology, 36(4), 343–359. https://doi.org/10.1111/edt.12576
Flores, M. T., Andersson, L., Andreasen, J. O., Bakland, L. K., Malmgren, B., Barnett, F., Bourguignon, C., DiAngelis, A., Hicks, L., Sigurdsson, A., Trope, M., Tsukiboshi, M., & von Arx, T. (2007). Guidelines for the management of traumatic dental injuries. III. Primary teeth. Dental Traumatology, 23(4), 196–202. https://doi.org/10.1111/j.1600-9657.2007.00627.x










