Banyak orang tua mengira gigi susu cuma hiasan sementara yang bakal hilang sendiri, padahal kesehatan gigi mungil si kecil di masa kecil inilah yang menentukan seberapa rapi dan sehat senyum mewahnya saat dewasa nanti! Kalau kamu mau tahu rahasia mencegah gigi anak tumbuh gingsul, berantakan, atau berlubang sejak dini, memahami perbedaan gigi susu dan gigi permanen adalah langkah awal paling krusial yang wajib kamu simak sampai tuntas di sini.
Lantas, apa saja hal mendasar yang membedakan kedua jenis gigi ini? Mari kita bedah secara mendalam dan menyeluruh agar kamu bisa memberikan perawatan terbaik untuk buah hati tersayang.
Table of Contents
Jumlah Gigi pada Anak-anak vs Dewasa
Perbedaan yang paling jelas terlihat antara struktur gigi anak dan orang dewasa terletak pada jumlah total giginya. Pada fase anak-anak, set gigi yang pertama kali tumbuh disebut sebagai gigi susu atau gigi desidua. Jumlah keseluruhan gigi susu ini adalah 20 buah, yang terbagi rata menjadi 10 gigi di rahang atas dan 10 gigi di rahang bawah. Struktur ini dirancang secara alami oleh tubuh untuk menyesuaikan dengan ukuran rongga mulut dan tulang rahang anak yang masih sangat kecil serta berada dalam tahap perkembangan.
Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia anak, tulang rahang mereka akan membesar dan memanjang. Pada momen inilah gigi susu akan mulai goyah, tanggal satu per satu, lalu digantikan oleh set gigi permanen atau gigi dewasa. Ketika seluruh proses pertumbuhan telah selesai, orang dewasa idealnya memiliki total 32 gigi permanen, yaitu 16 di rahang atas dan 16 di rahang bawah. Jumlah ini sudah mencakup 4 gigi geraham bungsu (third molars atau wisdom teeth) yang biasanya baru erupsi atau muncul di usia remaja akhir hingga awal usia dua puluhan.
Jika kamu ingin memastikan kondisi tumbuh kembang gigi anak berjalan optimal tanpa hambatan, kamu bisa rutin memeriksakan si kecil ke dokter spesialis melalui layanan gigi anak.
Baca Juga: Bayi 8 Bulan Belum Tumbuh Gigi? Ayo Pelajari Penyebabnya!
Perbedaan Ukuran dan Struktur Akar Gigi
Bila diamati secara cermat, ukuran fisik dan bentuk anatomi akar dari kedua jenis gigi ini memiliki perbedaan yang sangat kontras. Hal ini berkaitan erat dengan fungsi mekanis serta masa pakai masing-masing gigi di dalam mulut.
Anatomi dan Ukuran Gigi Susu
Gigi susu memiliki mahkota gigi yang berukuran relatif lebih kecil dan lebih pendek. Selain itu, bentuk akarnya cenderung lebih tipis, pendek, serta menyebar lebar ke arah samping. Bentuk akar yang menyebar ini diciptakan secara khusus oleh alam untuk memberikan ruang yang cukup bagi benih gigi permanen yang sedang tumbuh dan berkembang tepat di bawahnya. Ketika saatnya gigi permanen siap muncul ke permukaan, akar gigi susu akan mengalami resorpsi atau penyusutan alami, sehingga gigi susu menjadi goyah dan mudah tanggal tanpa menimbulkan rasa sakit yang berlebihan.
Anatomi dan Ukuran Gigi Permanen
Sebaliknya, gigi permanen memiliki ukuran mahkota yang jauh lebih besar, tebal, dan kokoh. Karena dirancang untuk digunakan seumur hidup dalam mengunyah berbagai jenis makanan yang keras, gigi permanen ditopang oleh akar yang panjang, tebal, dan tertanam sangat kuat di dalam tulang alveolar rahang. Sistem perakaran yang kokoh ini memastikan bahwa gigi permanen tidak mudah goyah atau bergeser saat menerima tekanan beban kunyah yang berat setiap hari.
Baca Juga: Usia Tumbuh Gigi Permanen pada Anak, Ortu Wajib Tahu!
Warna Gigi dan Ketebalan Lapisan Email
Tahukah kamu mengapa gigi anak-anak sering kali terlihat jauh lebih putih bersih dibandingkan dengan gigi orang dewasa? Jawabannya ada pada perbedaan ketebalan lapisan jaringan pembentuk gigi, khususnya email (enamel) dan dentin.
Lapisan Email dan Warna Gigi Susu
Email adalah lapisan terluar gigi yang berfungsi sebagai pelindung utama dari gesekan dan kuman. Pada gigi susu, lapisan email dan dentin berukuran sangat tipis jika dibandingkan dengan gigi permanen. Lapisan email yang tipis ini bersifat lebih transparan, sehingga memantulkan warna putih terang yang khas seperti warna susu segar. Namun, ada konsekuensi dari tipisnya lapisan pelindung ini: gigi susu menjadi jauh lebih rapuh dan sangat cepat berlubang apabila terkena paparan sisa makanan manis atau asam. Kerusakan ini juga kerap memicu masalah estetika yang mengganggu, seperti yang dijelaskan dalam artikel gigi anak hitam.
Lapisan Email dan Warna Gigi Permanen
Di sisi lain, gigi permanen dibekali dengan lapisan email yang jauh lebih tebal serta struktur dentin di bawahnya yang lebih padat. Dentin pada dasarnya memiliki warna alami sedikit kekuningan atau gading. Karena lapisan dentin pada gigi permanen sangat tebal, warna kekuningan alami ini sedikit menembus lapisan email, sehingga gigi permanen orang dewasa secara alami terlihat berwarna agak kekuningan atau putih gading, bukannya putih bersih berseri. Ketebalan email ini pula yang membuat gigi permanen lebih tahan terhadap serangan asam dan infeksi bakteri penyebab karies.
Baca Juga: Bruxism pada Anak: Gejala dan Cara Mengatasinya
Fungsi Gigi Susu sebagai Penjaga Ruang (Space Maintainer)
Sering kali timbul anggapan keliru di masyarakat bahwa gigi susu tidak perlu dirawat dengan serius karena sifatnya yang hanya sementara dan kelak akan digantikan. Padahal, peran gigi susu sangat krusial bagi arsitektur dan kerapian susunan gigi masa depan anak.
Fungsi utama gigi susu yang paling vital adalah bertindak sebagai space maintainer alami atau penjaga ruang. Gigi susu berada di posisinya untuk menahan ruang di dalam rahang agar tetap terbuka dan cukup bagi calon gigi permanen yang sedang bersiap untuk tumbuh. Selain itu, gigi susu memandu arah erupsi gigi permanen agar dapat muncul di posisi yang tepat dan lurus.
Apabila gigi susu mengalami kerusakan parah, berlubang besar, lalu terpaksa dicabut sebelum waktunya (pencabutan prematur), maka gigi-gigi tetangga di sekitarnya akan perlahan bergeser memiring ke area yang kosong tersebut. Akibatnya, ruang untuk gigi permanen yang seharusnya tumbuh di lokasi itu menjadi tertutup atau menyempit. Hal inilah yang menjadi penyebab utama timbulnya masalah penumpukan gigi, gigi gingsul, atau kondisi gigi anak berantakan saat memasuki usia remaja kelak.
Timeline Pertumbuhan dan Usia Penanggalan Gigi
Proses pertumbuhan gigi dari masa bayi hingga remaja merupakan sebuah perjalanan panjang yang membutuhkan pemantauan rutin secara berkala. Mengetahui timeline atau tahapan jadwal tumbuh kembang gigi akan membantu kamu mendeteksi bila ada kelainan pertumbuhan sejak dini.
- Erupsi Gigi Susu (Usia 6 Bulan – 3 Tahun): Gigi susu pertama (biasanya gigi seri depan bawah) umumnya mulai muncul saat bayi berusia sekitar 6 hingga 10 bulan. Proses ini berlanjut bertahap hingga seluruh set yang terdiri dari 20 gigi susu tumbuh lengkap saat anak menginjak usia sekitar 2,5 hingga 3 tahun.
- Periode Gigi Campuran / Transisi (Usia 6 Tahun – 12 Tahun): Fase transisi dimulai sekitar usia 6 tahun, ketika gigi susu depan mulai tanggal dan digantikan oleh gigi seri permanen. Selama rentang usia 6 hingga 12 tahun ini, anak berada dalam periode gigi campuran, di mana di dalam mulut mereka terdapat kombinasi antara gigi susu dan gigi permanen secara bersamaan.
- Erupsi Gigi Permanen Lengkap (Usia 12 Tahun ke Atas): Pada usia sekitar 12 hingga 13 tahun, biasanya seluruh gigi susu sudah tanggal sepenuhnya dan digantikan oleh 28 gigi permanen. Sementara itu, 4 gigi geraham bungsu paling belakang umumnya baru akan tumbuh secara bertahap pada rentang usia 17 hingga 21 tahun.
Cara Merawat Gigi Susu dan Gigi Permanen Agar Tetap Sehat
Meskipun gigi susu dan gigi permanen memiliki struktur serta karakteristik anatomis yang berbeda, keduanya sama-sama membutuhkan perhatian dan perawatan kebersihan rongga mulut yang konsisten. Berikut adalah tips penting yang bisa kamu terapkan setiap hari:
- Menyikat Gigi Secara Teratur: Sikat gigi minimal dua kali sehari, yaitu pada pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur, menggunakan pasta gigi yang mengandung fluoride dengan dosis yang disesuaikan usia anak.
- Menggunakan Benang Gigi (Flossing): Bersihkan sela-sela gigi yang rapat menggunakan dental floss untuk mengangkat sisa makanan yang tidak terjangkau oleh bulu sikat gigi.
- Membatasi Makanan Manis dan Lengket: Kurangi konsumsi permen, cokelat, minuman bersoda, dan camilan manis yang mudah menempel di permukaan gigi dan memicu terbentuknya plak asam.
- Pemeriksaan Rutin ke Dokter Gigi: Lakukan kunjungan berkala ke klinik gigi setiap 6 bulan sekali untuk pembersihan plak, scaling, pencegahan karies, serta evaluasi tumbuh kembang susunan gigi secara berkala.
Jaga Kesehatan Gigi Keluarga Kamu Bersama SATU Dental!
Pemeriksaan kesehatan gigi sejak dini adalah langkah investasi terbaik untuk memastikan gigi susu si kecil dapat tanggal pada waktunya, sehingga gigi permanen mereka tumbuh dengan rapi, sehat, dan sempurna. Jangan tunggu sampai timbul rasa sakit atau kerusakan parah! Segera percayakan perawatan kesehatan gigi dan mulut seluruh anggota keluarga kamu kepada tim dokter gigi profesional dan berpengalaman di SATU Dental.
Untuk mempermudah pembayaran, tersedia berbagai pilihan melalui lebih dari 20 perusahaan asuransi, fasilitas paylater, serta cicilan 0% dari berbagai mitra seperti BCA, Bank Mandiri, BRI, OCBC, Kredivo, Indodana, dan Care Now.
Yuk, jadwalkan kunjungan kamu dan si kecil ke Klinik Gigi SATU Dental terdekat sekarang juga demi wujudkan senyum sehat dan percaya diri sepanjang hidup!
Referensi
American Academy of Pediatric Dentistry. (2024). Dental growth and development. In The reference manual of pediatric dentistry (pp. 490–491). https://www.aapd.org/globalassets/media/policies_guidelines/r_dentalgrowth25.pdf
American Academy of Pediatric Dentistry. (2024). Guideline on management of the developing dentition and occlusion in pediatric patients. The Reference Manual of Pediatric Dentistry. https://www.aapd.org/assets/1/7/G_DevelopDentition.pdf
American Academy of Pediatric Dentistry. (2025). Policy on early childhood caries: Consequences and preventive strategies. The Reference Manual of Pediatric Dentistry. https://www.aapd.org/globalassets/media/policies_guidelines/p_eccconsequences.pdf











