Sariawan di gusi belakang dapat menimbulkan rasa perih saat mengunyah, menyikat gigi, bahkan menelan. Keluhan ini bisa disebabkan oleh luka akibat makanan keras, iritasi jaringan mulut, atau peradangan di sekitar gigi bungsu. Meski sebagian luka dapat sembuh dengan sendirinya, penting untuk mengenali gejalanya karena tidak semua luka pada gusi belakang merupakan sariawan biasa. Artikel ini akan membahas penyebab, gejala, pengobatan, serta cara mencegah sariawan di gusi belakang agar kesehatan gigi dan mulut tetap terjaga.
Table of Contents
Penyebab Sariawan di Gusi Belakang yang Perlu Diketahui
Sariawan di gusi belakang dapat muncul akibat cedera lokal maupun kondisi tertentu pada rongga mulut. Sariawan aftosa umumnya berupa luka dangkal yang terasa nyeri, sedangkan infeksi gusi di sekitar gigi bungsu dapat menimbulkan keluhan serupa. Beberapa faktor yang perlu diketahui meliputi:
1. Cedera akibat makanan keras atau tajam
Mengonsumsi kerupuk, keripik, tulang ikan, atau makanan bertekstur tajam dapat melukai jaringan gusi di bagian belakang mulut. Gesekan berulang dari makanan, sikat gigi, atau tepi gigi yang tajam juga dapat menyebabkan ulkus traumatik. Luka biasanya terasa perih ketika terkena makanan dan dapat membaik setelah sumber iritasi dihindari serta kebersihan mulut dijaga.
2. Pertumbuhan gigi bungsu
Gigi bungsu yang tumbuh sebagian dapat menimbulkan tekanan dan iritasi pada jaringan gusi di belakang geraham kedua. Jika posisi gigi membuat sebagian permukaannya tertutup gusi, sisa makanan dan plak bisa terperangkap di bawah lipatan tersebut. Kondisi ini dapat menyebabkan perikoronitis, yaitu peradangan jaringan gusi di sekitar gigi yang sedang tumbuh, dengan gejala berupa nyeri, kemerahan, pembengkakan, dan terkadang keluarnya nanah.
3. Sariawan aftosa dan faktor pemicunya
Sariawan aftosa dapat muncul sebagai luka kecil berbentuk bulat atau oval, dengan bagian tengah putih kekuningan dan tepi kemerahan. Penyebab pastinya belum sepenuhnya diketahui, tetapi trauma ringan, stres, perubahan hormonal, dan kekurangan zat gizi tertentu seperti vitamin B12, folat, atau zat besi dapat berperan pada sebagian orang. Sariawan aftosa bukan semata-mata disebabkan oleh kurangnya kebersihan mulut, dan kekurangan vitamin tidak selalu menjadi penyebabnya.
4. Infeksi virus atau bakteri
Infeksi tertentu dapat menimbulkan luka atau peradangan di rongga mulut yang menyerupai sariawan. Infeksi virus, seperti herpes simpleks, dapat menyebabkan kelompok lepuhan yang kemudian menjadi luka, sedangkan infeksi bakteri di sekitar gigi bungsu lebih sering menyebabkan gusi bengkak, nyeri, bau mulut, atau keluarnya nanah. Karena penanganannya berbeda, luka di gusi belakang yang disertai demam, pembengkakan yang bertambah, atau nyeri berat sebaiknya diperiksa dokter gigi. Luka pada gusi juga dapat berkaitan dengan kondisi lain sehingga tidak tepat menentukan penyebab hanya dari penampilannya.
Keluhan sariawan yang muncul pada jaringan gusi dapat memiliki karakteristik berbeda sesuai penyebabnya. Karena itu, mengenali ciri-ciri sariawan di gusi dapat membantu memahami keluhan, tetapi pemeriksaan tetap diperlukan jika luka tidak kunjung membaik.
Gejala Sariawan di Gusi Belakang yang Sering Dirasakan
Gejala sariawan di gusi belakang dapat berbeda-beda, tergantung ukuran luka, lokasi, dan penyebabnya. Sariawan biasa umumnya menimbulkan nyeri lokal, sedangkan peradangan akibat gigi bungsu bisa disertai pembengkakan yang lebih luas. Gejala yang sering dirasakan, yaitu:
1. Nyeri atau perih saat mengunyah
Luka pada gusi belakang dapat terasa perih ketika terkena makanan, terutama makanan panas, pedas, asam, keras, atau tajam. Rasa nyeri juga bisa muncul saat menyikat gigi atau menyentuh area tersebut. Jika nyeri terasa berdenyut, semakin berat, atau menyebar ke rahang dan telinga, penyebab lain seperti infeksi gigi atau perikoronitis perlu dipertimbangkan.
2. Gusi memerah atau membengkak
Sariawan biasanya tampak sebagai luka kecil dengan bagian tengah putih atau kekuningan dan tepi kemerahan. Namun, pembengkakan yang luas di belakang geraham, gusi yang menutupi sebagian gigi bungsu, atau keluarnya nanah lebih mengarah pada kemungkinan peradangan atau infeksi. Perbedaan ini penting karena infeksi memerlukan evaluasi dan penanganan penyebabnya, bukan hanya obat pereda nyeri.
3. Kesulitan membuka mulut atau menelan
Luka kecil biasanya tidak menyebabkan gangguan menelan yang nyata. Sebaliknya, perikoronitis atau infeksi yang menyebar dapat menimbulkan nyeri saat menelan, sulit membuka mulut, dan pembengkakan pada pipi atau rahang. Jika kesulitan menelan atau bernapas disertai pembengkakan yang cepat membesar, segera cari pertolongan medis darurat.
4. Bau mulut atau rasa tidak nyaman di belakang geraham
Penumpukan plak dan sisa makanan di sekitar gigi bungsu yang tumbuh sebagian dapat menimbulkan bau mulut atau rasa tidak enak. Gejala ini lebih perlu diperhatikan jika disertai gusi bengkak, nyeri yang menetap, atau cairan bernanah karena dapat menunjukkan adanya infeksi.
Cara Mengobati Sariawan di Gusi Belakang Secara Efektif
Cara mengobati sariawan di gusi belakang perlu disesuaikan dengan penyebabnya. Luka ringan akibat trauma biasanya dapat membaik dengan perawatan mandiri, sedangkan perikoronitis atau infeksi membutuhkan pemeriksaan dokter gigi. Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk membantu meredakan keluhan, yaitu:
1. Menggunakan Obat Sariawan dari Apotek
Gel pelindung luka atau obat topikal untuk mengurangi nyeri dapat membantu meredakan ketidaknyamanan. Pilih produk yang memang ditujukan untuk penggunaan di rongga mulut dan ikuti petunjuk pada kemasan atau saran apoteker. Obat yang mengandung kortikosteroid terkadang digunakan untuk sariawan aftosa tertentu atas anjuran tenaga kesehatan, tetapi tidak boleh digunakan sembarangan jika penyebab luka belum diketahui atau terdapat dugaan infeksi.
2. Berkumur dengan Larutan Garam
Larutan garam hangat dapat membantu membersihkan rongga mulut dan mengurangi ketidaknyamanan. Campurkan sekitar setengah sendok teh garam ke dalam segelas air hangat, gunakan untuk berkumur, lalu buang dan jangan ditelan. Hindari larutan yang terlalu pekat karena dapat mengiritasi jaringan. Langkah ini membantu perawatan mandiri, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan jika keluhan disebabkan oleh infeksi atau perikoronitis.
3. Mengonsumsi Makanan Lembut dan Menjaga Hidrasi
Pilih makanan lembut yang tidak menggesek luka, serta hindari makanan pedas, asam, terlalu panas, atau bertekstur tajam selama masa penyembuhan. Minum air yang cukup membantu menjaga kelembapan rongga mulut. Tetap bersihkan gigi dengan sikat berbulu lembut dan berhati-hatilah saat menyikat area yang sakit agar plak tidak menumpuk.
4. Menggunakan Bahan Alami secara Bijak
Bahan alami seperti madu sering digunakan untuk membantu meredakan ketidaknyamanan, tetapi bukti klinis untuk memastikan efektivitasnya pada semua jenis sariawan masih terbatas. Madu tidak boleh diberikan kepada bayi berusia di bawah satu tahun. Hindari mengoleskan bahan yang bersifat iritatif, seperti garam langsung pada luka, jeruk, atau bahan kimia rumah tangga karena dapat memperparah iritasi. Pilihan obat alami sariawan sebaiknya tetap mempertimbangkan keamanan dan tidak menggantikan perawatan medis jika terdapat tanda infeksi.
5. Memeriksakan Diri ke Dokter Gigi jika Tidak Membaik
Periksakan sariawan di gusi belakang jika luka tidak membaik dalam dua minggu, berlangsung lebih dari tiga minggu, sering kambuh, semakin besar, mudah berdarah, atau disertai pembengkakan. Dokter gigi akan memeriksa lokasi dan bentuk luka, kondisi gigi di sekitarnya, serta kemungkinan faktor pemicu. Jika diperlukan, dokter dapat memberikan obat khusus atau pemeriksaan tambahan untuk menyingkirkan penyebab lain.
Perbedaan Sariawan Biasa dengan Masalah Gigi Bungsu
Sariawan biasa dan masalah gigi bungsu sama-sama dapat menimbulkan nyeri di bagian belakang mulut, tetapi keduanya memiliki ciri yang berbeda. Sariawan merupakan luka pada lapisan jaringan mulut, sedangkan perikoronitis adalah peradangan pada gusi di sekitar gigi yang tumbuh sebagian. Perbedaan yang dapat diperhatikan meliputi:
1. Lokasi dan bentuk luka
Sariawan biasa umumnya tampak sebagai luka dangkal berbentuk bulat atau oval, dengan bagian tengah putih kekuningan dan tepi merah. Sementara itu, perikoronitis biasanya berpusat pada gusi yang menutupi sebagian gigi bungsu. Jaringan di sekitarnya dapat tampak merah, bengkak, dan nyeri ketika disentuh.
2. Gejala yang menyertai
Sariawan biasa cenderung menimbulkan nyeri lokal ketika makan atau menyikat gigi dan umumnya tidak menyebabkan demam. Perikoronitis dapat disertai nyeri di belakang geraham, bau mulut, rasa tidak enak, pembengkakan, kesulitan membuka mulut, bahkan demam apabila infeksi lebih berat. Namun, gejala saja tidak selalu cukup untuk memastikan diagnosis.
3. Penanganan yang dibutuhkan
Sariawan ringan umumnya membaik dengan menghindari iritan dan menjaga kebersihan mulut. Sebaliknya, perikoronitis mungkin memerlukan pembersihan area di sekitar gigi, pengendalian nyeri, dan penanganan gigi bungsu sesuai hasil pemeriksaan. Antibiotik hanya diberikan jika memang ada indikasi. Dokter gigi akan menentukan apakah pemantauan, perawatan lokal, atau pencabutan gigi diperlukan berdasarkan kondisi klinis. Mengenali tanda perikoronitis membantu memahami mengapa nyeri pada gusi belakang tidak selalu dapat ditangani seperti sariawan biasa.
Tips Mencegah Sariawan di Gusi Belakang Muncul Kembali
Sariawan di gusi belakang tidak selalu dapat dicegah sepenuhnya, terutama jika berkaitan dengan kecenderungan sariawan aftosa berulang. Namun, menjaga kebersihan mulut, menghindari trauma, dan memenuhi kebutuhan nutrisi dapat membantu mengurangi risiko serta frekuensi kekambuhan. Langkah yang dapat diterapkan antara lain:
1. Menjaga kebersihan gigi dan gusi
Sikat gigi dua kali sehari menggunakan sikat berbulu halus dan pasta gigi berfluorida. Bersihkan area geraham belakang secara perlahan agar plak dan sisa makanan tidak menumpuk, khususnya di sekitar gigi bungsu yang tumbuh sebagian. Hindari menyikat terlalu keras karena trauma mekanis dapat memicu luka pada jaringan mulut.
2. Memenuhi kebutuhan cairan dan nutrisi
Minum air secara cukup membantu menjaga kelembapan rongga mulut. Konsumsi makanan bergizi seimbang yang mengandung vitamin C, vitamin B12, folat, zat besi, serta protein untuk mendukung kesehatan jaringan. Kekurangan zat gizi tertentu dapat berkaitan dengan sariawan berulang, tetapi suplemen tidak selalu diperlukan jika kebutuhan nutrisi sudah terpenuhi. Jika sariawan sering kambuh, dokter dapat menyarankan pemeriksaan untuk menilai kemungkinan kekurangan nutrisi atau kondisi lain.
3. Menghindari makanan dan kebiasaan pemicu
Batasi makanan yang terlalu keras, tajam, pedas, atau asam jika terbukti memperburuk keluhan. Hindari kebiasaan menggigit benda keras dan perhatikan apakah produk perawatan mulut tertentu memicu iritasi. Pada sebagian orang, pasta gigi yang mengandung sodium lauryl sulfate dapat memperburuk sariawan berulang sehingga alternatif tanpa bahan tersebut dapat dipertimbangkan.
4. Mengelola stres dan memantau kekambuhan
Stres dan kurang tidur dapat berkaitan dengan kekambuhan sariawan pada sebagian orang. Menjaga pola tidur, berolahraga, dan mengelola stres dapat membantu mendukung kesehatan secara keseluruhan. Catat frekuensi, lokasi, dan durasi luka agar dokter gigi dapat menilai pola kekambuhan dan menentukan apakah pemeriksaan lebih lanjut diperlukan.
Baca Juga: Vitamin Gigi dan Mineral yang Dibutuhkan untuk Kesehatan Mulut
Sariawan di gusi belakang tidak boleh diabaikan, terutama jika disertai pembengkakan, nyeri yang semakin parah, atau sulit membuka mulut. Penanganan yang tepat perlu disesuaikan dengan penyebabnya, baik berupa sariawan biasa, luka akibat iritasi, maupun peradangan di sekitar gigi bungsu. Klinik Gigi SATU Dental menyediakan perawatan gigi dasar hingga lanjutan dengan dukungan 350+ dokter gigi umum dan spesialis, termasuk Spesialis Bedah Mulut, serta teknologi untuk membantu pemeriksaan dan diagnosis yang akurat. Untuk menunjang kenyamanan perawatan, tersedia pilihan pembayaran melalui PayLater, cicilan bank 0%, dan asuransi tertentu, seperti AdMedika, BNI Life, Sequis, AIA, serta Mandiri InHealth, sesuai ketentuan yang berlaku. Jangan biarkan keluhan pada gusi mengganggu aktivitasmu. Konsultasikan ke Klinik Gigi SATU Dental untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai dengan kondisi kesehatan gigi dan mulutmu.
Referensi
Lau, C. B., & Smith, G. P. (2022). Recurrent aphthous stomatitis: A comprehensive review and recommendations on therapeutic options. Dermatologic Therapy, 35(6), e15500.
Milia, E., Sotgiu, M. A., Spano, G., Filigheddu, E., Gallusi, G., & Campanella, V. (2022). Recurrent aphthous stomatitis (RAS): Guideline for differential diagnosis and management. European Journal of Paediatric Dentistry, 23(1).
Sharma, D., et al. (2023). Management of recurrent aphthous stomatitis: An Indian expert consensus. Indian Journal of Otolaryngology and Head & Neck Surgery, 75(3), 2672–2680.
SECIB. (2024). Diagnosis and indications for the extraction of third molars: The SECIB clinical practice guideline. Medicina Oral, Patología Oral y Cirugía Bucal.










